Enam Puluh Menit Pertama di Bangkok

Untuk pertama kalinya saya memberanikan diri untuk pergi ke luar negeri seorang diri. Thailand tujuannya. Boleh jadi dibilang mainstream karena mau melihat suasana Songkran, tapi biarlah, toh, saya memang ingin melihat festival tahunan yang diadakan untuk memeriahkan tahun baru Thailand itu.

Tiba di bandara Suvarnabhumi pada pukul sebelas siang, hari Minggu, tanggal 14 April 2013. Hari itu sangat cerah, bahkan bisa dibilang panas, pas lah untuk main basah-basahan, begitu pikir saya ketika berjalan keluar dari pesawat. Ketika sedang seru-serunya memperhatikan setiap sudut bandara sambil berjalan menuju pos imigrasi, saya melihat sepasang suami istri paruh baya yang duduk bersebalahan dengan saya di pesawat, mereka terlihat kebingungan. Saya tahu ini pertama kalinya mereka ke Bangkok, bahkan keluar negeri, karena sebelumnya saya membantu mereka mengisi kertas imigrasi di pesawat, paspornya keluaran baru, belum berpengalaman, dan hanya ada cap dari bandara Soekarno-Hatta. Saya segera menghampiri dan mengajak mereka ke pos imigrasi yang petunjuk arahnya bergelantungan di langit-langit bandara. Tanpa curiga, mereka pun megikuti saya.

Pos imigrasinya ternyata lumayan jauh, berkali-kali petunjuk arah saya lihat walaupun jalannya lurus saja. Tidak ada pembicaraan apa-apa antara saya dengan sepasang suami istri itu, mereka pun tidak saling berbicara. Maka saya terus jalan dan dibuntuti oleh mereka. Bagi yang penasaran kenapa mereka bisa ada di Thailand, ini jawabannya, tentu mereka datang ke Thailand bukan dalam rangka untuk menghadiri Songkran seperti saya, mereka ingin mengunjungi anak, menantu, dan cucu mereka yang menetap di Bangkok selama satu tahun terakhir. Begitu sedikit cerita yang saya dengar dari sang suami saat di pesawat. Nantinya sepasang suami istri ini akan dijemput oleh anak mereka, dan itu membuat saya lega.

Pemeriksaan paspor di pos imigrasi tidak begitu lama, kurang lebih lima belas menit termasuk antre, apalagi di bandara Suvarnabhumi terdapat antrean khusus paspor negara-negara ASEAN. Saya mempersilakan sepasang suami istri untuk antre di depan saya, saya takut bila saya yang lebih dulu di cek dan lolos kemudian ternyata mereka berdua bermasalah, saya akan kesulitan membantunya. Namun semua baik-baik saja, setelah sang istri lolos, suaminya menyusul. Saat paspor saya selesai diperiksa dan saya resmi berada di tanah Thailand, saya mencari-cari sepasang suami istri itu yang ternyata tidak menunggu saya di jalur keluar pos imigrasi. Setelah saya menyipitkan mata, mencari mereka di antara kerumunan orang, terlihat mereka sedang menunggu bagasi, sang suami sempat menoleh dan melambaikan tangan serta tersenyum kepada saya. Mungkin itu tanda terima kasih lengkap dengan kalimat ‘hati-hati di jalan’ dan ‘anak kami sudah menunggu di depan’. Maka saya langsung saja mencari jalan keluar dari bandara.

Papan petunjuk menuju transportasi publik bernama airport link mudah di cari, semuanya petunjuk bergelantungan di langit-langit. Tapi mendadak saya terdiam, seperti ada yang memaku kaki saya ke lantai. Saat itulah saya baru sadar jika saya tidak memiliki Baht Thailand sepeser pun. Bagaimana caranya hidup di Thailand jika saya tidak memiliki mata uang negara ini? Akhirnya saya memutuskan untuk menukarkan semua Rupiah yang saya punya di salah satu money changer yang berada di dekat saya, tidak peduli bila kursnya kemahalan, Baht harus ditangan.

Maka resmilah seorang perempuan menjadi lawan bicara pertama saya di kota yang namanya paling panjang di dunia. Saya bilang ingin menukarkan Rupiah saya dengan menggunakan bahasa Inggris, dia mengangguk lalu menekan tombol-tombol di kalkulator yang sudah tersedia di atas mejanya, lalu memberikan kalkulator itu kepada saya, memberitahukan berapa nilai Rupiah terhadap Baht. Saya mengangguk, lalu memberikannya sejumlah uang. Transasksi itu begitu cepat, setelah menerima Baht dan menandatangani sebuah nota, saya mengucapkan terima kasih, perempuan itu hanya mengangguk sambil tersenyum. Saat meninggalkan money changer, saya pun bertanya-tanya, perlukah saya meralat kalimat pertama saya di paragraf ini? Karena perempuan itu tidak mengeluarkan sepatah kata pun untuk saya. Tanpa kata-kata, bisakah kita menganggap seseorang menjadi lawan bicara? Atau mungkin saya dan dia baru saja menggunakan bahasa paling tua di dunia, bahasa manusia.

Iklan

5 pemikiran pada “Enam Puluh Menit Pertama di Bangkok

  1. Ping balik: Dialog Diri Sendiri | Perjalanan Perjalanan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s