Dialog Diri Sendiri

Saya mendapatkan penginapan! Dan lucunya, penginapan yang saya temui tepat berdiri di depan rumah anak kecil yang memeperi saya bubuk putih. Mungkin karena saat itu saya terlalu fokus dengan anak kecil tersebut sehingga saya tidak melihat dan menanyakan ketersediaan kamar di penginapan yang berada tepat di seberang rumahnya. Sebenarnya saya tidak bergitu senang karena harga yang ditawarkan cukup tinggi, 550 baht atau setara dengan 165.000 rupiah untuk satu malam. Saya membaca di berbagai blog dan buku panduan di Jakarta, banyak orang yang mendapatkan kamar jauh di bawah harga tersebut, apalagi jika mendapatkan kamar type dorm yang berarti membagi kamar dengan beberapa orang lainnya, bisa seharga 50.000 rupiah!

“Huge room, I give you only 550 baht because you’re alone. Usually this room 700 baht!”, begitu penjelasan receptionist ketika saya menanyakan apakah ada kamar yang lebih murah dari kamar yang ia tawarkan.

Namun, setelah masuk ke dalam kamar penginapan yang berada di lantai dua, saya terkejut. Kamar itu dilengkapi dengan twin bed, televisi, kipas angin, AC, air panas, dan yang paling membuat saja takjub, adalah keberadaan kulkas. Dan bukan kulkas kubus, melainkan kulkas satu pintu setinggi dada saya. Well, 550 baht ternyata harga yang terlalu murah untuk fasilitas yang saya dapatkan di penginapan itu.

Setelah mandi dan mengganti pakaian serta meminum tolak angin dan membaluri tubuh dengan minyak angin (sungguh, ini bukan iklan, namun saat melakukan perjalanan, kedua ‘obat’ ini tidak mungkin saya tinggalkan) saya mencoba untuk berisitrahat. Sebenarnya saya lapar, tapi saat itu masih sore dan saya pikir, lebih baik sekalian makan malam saja untuk berhemat. Lagipula Khao San Road hidup 24 jam, dan sekarang sedang Songkran, pastilah nanti malam juga tetap ramai dengan pedagang. Dan semoga saja acara sempot-menyemprot sudah selesai sehingga saya bisa berjalan-jalan malam dengan tenang tanpa takut kebasahan.

Saya berusaha untuk tidur, tetapi tidak bisa. Keramaian di luar pengiapan seperti menggedor pintu kamar saya. Suara tawa di luar penginapan, suara pembicaraan di kamar sebelah yang tidak bisa saya deteksi menggunakan bahasa apa, sampai suara tangisan anak kecil. Akhirnya saya homesick. Ini untuk pertama kalinya dalam hidup, saya merasakan luar bisa rindu akan rumah, rindu akan wajah-wajah yang telah saya kenal. Aneh, saya sudah beberapa kali melakukan perjalanan sendirian dan tidak pernah merasa begitu kesepian. Baru kali ini, dan konyolnya, saya baru meninggalkan Jakarta pagi tadi! Mungkin karena ini untuk pertama kalinya saya melakukan perjalanan ke luar negeri seorang diri, langsung ke negeri yang belum pernah saya kunjungi sebelumnya, dan di saat semua orang sedang merayakan kehidupan, bersenang-senang.

“Their happy is too loud,” — We Bought A Zoo (2011)

Berkat password wifi penginapan, saya bisa menghubungi adik saya, menanyakan kabarnya dan semua orang di rumah. Kenyataan bahwa ada orang yang tahu keberadaan dan kondisi saya meski jauh jaraknya dan peduli akan kabar yang saya berikan membuat pikiran saya menjadi lebih nyaman. Manusia-manusia tersayang ternyata memang mampu membuat suasana hati merasa lebih baik. Pikiran saya melayang jauh, saya memikirkan keluarga, teman-teman, para sahabat, mereka sedang melakukan apa? Apakah mereka pernah berpikir untuk melakukan perjalanan seorang diri ke tempat jauh yang asing, dan terlibat dalam pemikiran-pemikiran seperti apa yang sedang saya pikirkan?

Akhirnya di atas tempat tidur yang tidak begitu nyaman, berselimut rumah sakit yang sudah bolong-bolongnya akibat jatuhnya abu rokok pengunjung kamar sebelumnya, saya banyak memikirkan hidup, dan mati. Saya memikirkan kemungkinan buruk yang bisa terjadi dalam hidup selama beberapa hari ke depan dan ketakuan akan imaji yang saya bikin sendiri. Berjalan sendiri memang kadang begitu menakutkan pada awalnya, tapi saya tahu, bahwa pengalaman saya nantinya akan membuat saya lebih kuat lagi. Bangkok adalah tempat pertama di mana saya berjalan jauh seorang diri. Ini bukan Jogja, bukan Bali, tempat di mana saya bisa lari ke kantor polisi dan berbicara dengan cepat apa yang saya keluhkan atau meminta pertolongan kepada orang yang terlihat baik-baik di jalan atas suatu kejadian buruk yang menimpa saya. Dan saya harus memaklukmi diri saya sendiri yang memiliki ketakutan akan hal tersebut.

Kesempatan ini membuat saya berpikir tentang apa yang sudah terjadi seharian ini setibanya saya di Bangkok. Dan saya tersenyum ketika kembali melihat tulisan yang dibuat Pak Zaki yang saya tidak pahami artinya, apakah dia sudah sampai ke kampungnya? Bisakah saya menepati janji untuk pergi ke Yala dan kembali bertemu dengannya? Lalu Kell, apa yang dia lakukan sekarang? Berpesta di Khao San Road, sudah mendapatkan teman untuk bersenang-senang? Rumahnya pasti lebih jauh dari Jakarta, apakah ia merasakan homesick juga? Dan penipu di Hua Lamphong, apakah ia sudah mendapatkan orang untuk ditipu?

Tidak lama kemudian sebuah kabar baik datang dari telepon genggam yang masih tersambung wifi. Seorang teman yang juga sedang ikut merasakan serunya Songkran di Bangkok memberitahu bahwa penginapannya tak jauh dari penginapan saya.

Sebuah wajah familiar di tengah riuhnya tempat asing? Saya tahu, saya akan baik-baik saja.

Iklan

Kell

Saya tidak membawa Lonely Planet Thailand karena nantinya ada seorang teman yang membawa kitab suci tersebut. Sebagai gantinya, saya membawa Supernova: Akar karangan Dewi Lestari. Salah satu buku favorit saya sepanjang masa yang sudah saya baca lebih dari dua puluh kali. Di dalam buku tersebut, tokoh utama yang bernama Bodhi bertemu dengan tokoh bernama Kell di Bangkok, di Khao San Road. Maka tulisan kali ini saya dedikasikan untuk ‘Kell’ yang saya temui di Bangkok, di Khao San Road.

Saat itu saya sedang mengeringkan pakaian dari semprotan, siraman, sampai guyuran kemeriahan Songkran di sebuah gang yang dekat dengan Masjid. Wajah saya sudah dipeperi bubuk halus seperti bedak yang dicampur air, sebuah tanda mata dari seorang anak laki-laki berumur lima tahun ketika saya sedang berjalan di depan rumahnya. Ia, yang tingginya hanya sepaha saya, meloncat-loncat girang untuk memeperi saya bubuk halus tersebut, sampai akhirnya saya lah yang membungkuk, membiarkan pipi saya dipeperinya. Anak itu begitu manis, dan kelucuannya semakin bertambah ketika ia berkata, “Songkran krub.” kepada saya. Maka di situlah saya sadar bahwa saya baru saja resmi menyambut tahun baru Thailand, Songkran.

Akhirnya, tidak jauh dari rumah anak kecil itu saya berhenti berjalan. Karena tidak ada keramaian di sana, saya rasa cukup aman untuk duduk di pinggir jalan untuk mengeringkan pakaian tanpa takut terkena semprotan air lagi.

Saya bingung bukan main karena begini kondisinya: Saya kurang tidur, saya sudah berhadapan dengan penipu, saya belum makan, saya tidak tahu arah, saya basah, saya masih memanggul backpack, dan saya belum menemukan penginapan. Kondisi yang bisa dibilang tepat untuk bersumpah serapah. Maka saya duduk di sana, meletakan tas di samping saya, membaca peta yang sudah basah, mencoba memikirkan lekuk gang demi gang daerah Khao San Road sambil mengeringkan badan.

Lalu tiba-tiba seorang laki-laki dengan wajah kelelahan lewat di depan saya, ia menanyakan sebuah alamat dan mengeluh betapa sulitnya mencari penginapan dalam satu kalimat. Jujur saja, saya juga sudah memiliki daftar penginapan yang saya siapkan dari Jakarta, lebih dari sepuluh penginapan untuk berjaga-jaga, tapi … bagaimana caranya mencari alamat yang kita dapatkan dari internet dengan tulisan latin sedangkan di Thailand, hampir semua alamat ditulis dengan huruf Thai? Yes, good luck with that. Maka ketika ada seorang kaukasian bertanya kepada saya tentang alamat dan mengeluh, saya tertawa dan berkata bahwa saya bukan orang lokal, saya tidak ada beda dengannya, buta Thailand. Kemudian saya menjelaskan kepadanya bahwa saya sudah mengelilingi semua jalan sekitar Khao San Road untuk mencari penginapan. Kebanyakan penuh, lebih banyak lagi yang pegawainya mengunci penginapan dan merayakan Songkran, tidak jelas lagi mana penjaga penginapan ini, mana penjaga penginapan itu. Entah bagaimana nasib tamu penginapan yang ingin masuk (atau bahkan keluar? semoga mereka tidak mengunci tamu mereka sendiri) ke kamar mereka. Ia tertawa mendengar penjelasan saya yang terakhir.

“We’re really screwed, aren’t we?”

“About that, I can’t agree more,” balas saya. Entah kenapa, kami bedua akhirnya dapat tertawa bahagia atas kesialan yang menimpa kami.

Saya memerhatikan laki-laki yang duduk di samping saya. Ia berumur tigapuluhan, memiliki rambut pirang yang dipotong rapi, hampir potongan ABRI, mengenakan t-shirt berwarna biru langit dan celana jeans pendek berwarna biru dongker, tubuhnya terpahat sempurna, backpack berwarna hitam polos menggantung di belakang punggungnya, di betis sebelah kanan terdapat tato entah gambar -lebih mirip sebuah simbol- yang saya tidak ketahui. Karena tato tersebut, saya memanggilnya Kell, tokoh yang ada di Supernova: Akar karangan Dewi Lestari. Dan percayalah, Kell gambaran sempurna seorang model pria yang bisa ditemui di majalah fashion luar negeri.

Kell orang yang menyenangkan, kami bertukar cerita tentang kejadian-kejadian yang masing-masing kami lalui di Bangkok dalam tempo kurang dari 24 jam. Kami menertawai diri sendiri, mengeluhkan huruf Thailand, mengagumi Songkran yang begitu riuh, sampai berbisik membicarakan Raja Thailand yang menurut saya terlalu narsis karena banyak baliho dan poster dengan gambarnya di seluruh penjuru Bangkok. Kell setuju dengan pendapat saya.

“Let me see.” Saya meminta Kell memperlihatkan kertas yang sejak tadi ia genggam, sebuah kertas yang berisi alamat penginapan yang diberikan temannya yang sudah pernah ke Bangkok, dan temannya itu sudah membuat reservasi atas nama Kell di penginapan tersebut. Betapa terkejutnya saya ketika melihat kertas yang diberikan Kell dituliskan dengan huruf latin dan Thai, bahkan ada nomor teleponnya. Sebelum saya bertanya mengenai nomor telepon, Kell buru-buru menjelaskan bahwa sejak tadi ia mencoba menghubungi nomor tersebut, tapi tidak diangkat.

“At least, you have an address with Thai language,” kata saya akhirnya. “Let’s try my luck.”

Saya mengajak Kell berjalan, mencari orang Thai yang bisa membaca alamat di kertas Kell. Dengan wujud yang menyerupai warga lokal, tidak sulit bagi saya untuk berkomunikasi dibandingkan Kell. Kami berdua sudah tidak lagi peduli dengan semprotan air, kami menikmatinya, karena memang itulah tujuan Songkran, menikmati percikan air dari segala penjuru. Dan setelah kurang lebih lima belas menit hilir mudik, penginapan Kell ketemu.

“I don’t know how to say thanks to you. Thank you, mate!” Kell menghujani saya ucapan terima kasih.

Saya tersenyum. Orang yang berkata bahwa membantu seseorang dapat membuat bahagia pastilah orang yang jenius. Karena benar, saya bahagia Kell menemukan penginapannya. Sayang, penginapan Kell sudah penuh, teman Kell membuat reservasi satu bed di dorm type, saya tidak bisa menumpang di penginapan Kell. Kell berkali-kali meminta maaf karena tidak bisa membantu saya memecahkan masalah penginapan untuk saya. Saya menggeleng, karena sungguh ia tidak perlu meminta maaf karena masalah itu. Setelah duduk dan mengistiratkan badan di lobby penginapan Kell, saya pamit, berharap bertemu Kell lagi suatu saat.

Keluar dari penginapan Kell, saya kembali bingung. Tapi kemudian pemikiran lain menimpali, perasaan senang bukan main mendominasi karena saya baru saja mengalami sedikit bagian dari Supernova: Akar karangan Dewi Lestari. Saya menjelma Bodhi yang bertemu laki-laki kaukasian bertato simbol aneh di Bangkok, di Khao San Road.

Supernova: Akar - Dee

Supernova: Akar – Dee

Dan … Khao San Road

Mungkin saya sedang sial. Karena setelah beristirahat di halte dan mulai mencari petunjuk dari orang-orang tentang arah Khao San Road, tidak ada yang bisa membantu saya. Saya memiliki tiga peta Bangkok yang berbeda yang saya dapatkan dari Bandara Suvarnabhumi, seharusnya mudah saja bagi mereka untuk menunjukan arah Khao San Road. Namun aneh, dari tiga orang yang saya tanya, mereka semua menggeleng. Saya sampai harus mengganti pertanyaan dengan: “Di mana kita berada sekarang?”, berpikir setidaknya saya harus tahu tempat saya bediri di peta untuk kemudian berjalan ke arah Khao San Road.

Negatif. Bahkan tiga orang tersebut tidak tahu di mana kami berada menurut peta, padahal saya yakin benar Khao San Road tidaklah begitu jauh dari tempat saya berdiri. Saya memaklumi tiga orang tersebut karena mungkin saya bertanya pada orang yang salah, yang saya tanya adalah pedagang kelontong berumur tigapuluhan, seorang ibu yang membawa banyak belanjaan, dan seorang kakek yang baru saja turun dari bus, mereka bertiga mungkin tidak mengerti bahasa Inggris yang saya gunakan. Maka saya mencari orang yang seusia dengan saya, pelajar atau mahasiswa. Mereka pasti bisa bahasa Inggris, dan seminim apapun kemampuannya, mereka pasti tahu jawaban, “Where are we?”

Sampai akhirnya saya melihat seorang laki-laki yang umurnya sekitar dua puluh. Ia mengenakan t-shirt berwarna putih dan celana jeans pendek, lengkap dengan semacam nametag yang menggantung di lehernya, berfungsi untuk melindungi barang-barang berharga dari semprotan air, dan di semacam name tag yang ia gunakan itu terdapat iPhone serta beberapa pecahan uang, rambutnya naik berkat bangtuan gel rambut, wajahnya bersih, persis artis-artis di film Thailand. Otak saya seketika: “Dia anak gaul Bangkok! Dan anak gaul pasti bisa bahasa Inggris.” Maka saya bertanya. Tapi betapa mengejutkan karena laki-laki ini menggeleng begitu cepat bahkan sebelum saya sempat bertanya. Saya baru mengeluarkan kalimat “Excuse me, do you … ” sambil menunjukan peta, tapi ia begitu ketakutan seakan saya adalah dosen yang mendadak memberikan kuis. Ia pergi meninggalkan saya yang kebingungan. Saya menyerah. Saya fokus mencari taksi atau tuk-tuk meskipun agak mustahil mendapatkan kedua transportasi tersebut karena saya-tahu-Khao-San-Road-tidak-jauh.

Saya senang mencoba berbagai transportasi umum, di dalam maupun luar negeri. Ada kesenangan sendiri ketika saya berhasil menggunakan transportasi umum. Berperan sebagai warga lokal alih-alih wisatawan (lokal/mancanegara) selalu membuat saya berdebar senang. Selain itu, menggunakan transportasi umum jelas menghemat pengeluaran. Untungnya, saya bukan orang yang mudah mabuk dalam perjalanan. Maka saya bebas bertualang, menjelajah suatu kota dengan transportasi umum.

Dan pengalaman pertama saya menaiki tuk-tuk, kendaraan seperti bajaj namun terbuka di bagian belakang dan kanan kirinya, di Bangkok akhirnya terjadi. Saat itu saya yang sudah menyerah mencari tuk-tuk sepanjang jalan, berdiri mematung di sebuah perempatan besar. Saya memerhatikan mobil-mobil yang sedang menunggu lampu hijau menyala, sempat terpikir untuk mengetuk salah satu jendela mobil dan menumpang hingga Khao San Road, tapi jelas itu hal yang konyol karena saya sedang berada di kota besar, bukan pedesaan di mana hitchhiking menjadi hal yang lumrah. Tiba-tiba, saya mendengar suara berteriak di belakang mobil-mobil, supir tuk-tuk! Ia (seperti) memanggil saya. Maka saya berjalan ke arahnya. Ia mengajak saya berbicara Thai (saya sudah tidak bisa tertawa lagi karena dianggap warga lokal), namun setelah melihat raut wajah saya yang bingung, ia mengganti bahasanya menjadi bahasa Inggris yang lumayan baik.

“Where are you going?”

“Khao San Road.”

“I can take you, close to Khao San Road. There, traffic. Not good.”

“Okay, take me to the closest you can get. How much?”

“60 Baht.”

“40 Baht.”

“50 Baht.”

“Okay.”

Dan saya pun naik tuk-tuk. Sebelum tuk-tuk yang saya naiki jalan, karena masih menunggu lampu merah, sopir tuk-tuk bertanya apakah saya tidak bermasalah jika tersiram air sepanjang perjalanan. Saya mengangguk, saya siap basah. Semua perlengkapan elektronik sudah saya masukan ke dalam plastik dan dimasukan ke dalam lipatan pakaian. Saat itu hampir pukul tiga, pakaian yang saya kenakan sudah tidak lagi basah akibat semprotan sebelumnya, hanya sepatu yang masih lembab.

Percayalah, pengalaman menaiki tuk-tuk ini begitu mengesankan, karena sepanjang perjalanan saya disiram, disemprot, bahkan yang paling sial, saya nyaris diguyur menggunakan gayung ketika tuk-tuk yang saya tumpangi berhenti karena lampu merah oleh warga sekitar, untung supir tuk-tuk langsung menekan gasnya sehingga saya terhindar dari basah kuyup. Jalanan yang dipilih supir tuk-tuk adalah jalan-jalan kecil yang muat dua mobil jika dipaksakan, tiga menit yang mendebarkan sekaligus menyenangkan.

Sampai akhirnya tibalah saya di jalan yang sangat besar. Supir tuk-tuk berkata bahwa Khao San Road ada di seberang jalan. Saya melihatnya, jalanan yang penuh dengan manusia, benar-benar penuh. Jalanan itu disulap seperti jalan-jalan ketika perayaan 17 Agustus, bendera yang terbuat dari plastik dan berwarna-warni mengelilingi jalan itu membentuk pola segitiga, dikaitkan dari satu tiang ke tiang lain. Air menari-nari di atas jalan. Saya girang bukan main. Saya memberikan 60 Baht kepada supir tuk-tuk karena itu harga yang pantas, bahkan mungkin kurang. Saya lebihkan dari kesepakatan untuk ungkapan rasa terima kasih. Lagipula, hey, 10 Baht hanya setara dengan 3000 Rupiah. Dan saya hanya iseng menawarnya.

Saya menyebrangi jalan yang luasnya mungkin setara dengan Sudirman-Thamrin. Tidak mungkin mengelak semprotan yang simpang-siur di sekitar saya. Semua orang menggenggam pistol air, dari yang kecil sampai besar bukan main. Saya rela basah meski masih mengenakan pakaian berangkat dari Jakarta yang bahkan sudah sempat basah kemudian kering kembali.

Akhirnya, saya sampai di Khao San Road. Seorang diri. Leonardo DiCaprio pasti bangga.

Tuk-tuk

Tuk-tuk

Sebelum Tengah Malam di Singapura

Sejak kecil saya mendambakan tinggal di sebuah desa. Memiliki sawah yang dapat saya bajak dan memberi makan hewan ternak setiap hari, di penghujung hari saya akan duduk-duduk di teras rumah saya yang sederhana, atau main di warung kopi untuk mendengar cerita-cerita tetangga. Itu bentuk kehidupan ideal saya sampai saat ini. Maka tidak aneh jika saya selalu memilih tujuan perjalanan ke kota yang tidak terlalu ramai, saya menghindari pergi ke kota maju karena cukuplah bagi saya melihat Jakarta sejak lahir.

Tapi tanggal 3 September 2013 kemarin saya ke Singapura. Kota paling maju, kota paling aman, kota paling tepat waktu, kota paling bersih, kota paling taat, dan kota paling mapan di Asia Tenggara.

Untuk kedua kalinya saya ke negara kota itu seorang diri, alasannya sederhana saja, saya ingin menonton Before Midnight di bioskop karena bioskop Indonesia tidak menayangkannya. Walaupun saya sempat membaca kemungkinan blitzmegaplex akan menayangkan film tersebut, saya takut jika film itu tidak jadi diputar. Malam sebelum keberangkatan, saya melihat-lihat harga tiket pesawat. Beruntung, tiket pesawat Jakarta-Singapura-Jakarta lebih murah dibandingkan tiket pesawat Jakarta-Jogjakarta-Jakarta, maka setelah memeriksa jadwal Before Midnight di salah satu bioskop Singapura (hanya tinggal satu kali penayangan!), saya segera membeli tiket ke Singapura. Berangkat pagi tanggal 3 September, pulang petang tanggal 4 September. Saya memang tidak betah berlama-lama di Singapura selain biaya hidupnya yang memang mahal kelewatan.

Singapura bukan kota yang bisa dirayakan seorang diri. Kita membutuhkan teman ketika mengunjungi Singapura, untuk mengunjungi tempat-tempat gaul di sana, main ke Universal Studio, atau menonton pertunjukan di Esplanade. Singapura bukan tempat untuk mencari cerita, saya setengah mati memperhatikan orang-orang di sana hanya untuk mendapatkan pancaran mata yang berbeda dari warganya.

Sulit melihat pancaran mata yang berbeda di Singapura. Semua orang, sejak mendarat di Changi International Airport, disibukkan dengan gadgetnya masing-masing. Pemadangan serupa saat menunggu dan masuk MRT untuk menuju tengah kota. Di MRT semua orang diam, tidak ada yang bicara satu sama lain seakan bicara adalah larangan. Bahkan berdasarkan pengalaman saya, tidak ada anak balita Singapura menangis menyebalkan seperti apa yang sering dilakukan balita-balita di Indonesia yang bisa kita temui di transportasi publik. Semua orang tenang menunggu MRT datang di stasiun karena ada display yang menunjukan tanda berapa lama lagi MRT akan tiba. Tidak ada pancaran mata gelisah menerka kapan datangnya kereta.

Sejak dulu saya frustasi ketika menghadapi Singapura. Saya pernah berpendapat bahwa cinta tidak lewat Singapura. Semua statis, tidak ada ketidaksengajaan, tidak ada kejutan. Cupid bekerja berdasarkan waktu, dan bukankah mengerikan bila jatuh cinta dengan rencana?

Pukul sebelas siang saya sampai di Singapura, tanpa mencari peginapan terlebih dahulu, saya menuju Orchard Road tempat di mana bioskop yang menayangkan Before Midnight berada. Setelah membeli tiket penayangan jam tujuh malam, saya berkeliling Singapura menggunakan MRT, mencari cerita, mencari cinta. Karena saya tahu waktu check-in hostel biasanya pukul tiga.

Hingga pukul dua siang saya tidak menemukan cerita yang bisa saya ceritakan. Semua terlihat normal, terlalu normal. Tidak ada orang yang menyelak antrean, tidak ada orang yang menyebrang sembarangan, tidak ada orang yang membuang sampah seenaknya, semua orang merokok sambil duduk (ini yang paling menyebalkan untuk saya!), dan tentu, tidak ada balita yang menangis. Saya menyerah. Saya pergi ke daerah perbatasan daerah Bugis dan Little India, hostel tempat saya pernah menginap -dan sepertinya akan menjadi hostel tetap bila ke Singapura- untuk melakukan reservasi dan mengistirahatkan badan.

Saat masuk ke kamar tipe dorm, delapan tempat tidur berjajar tanpa penghuni. Wajar, karena saat itu adalah weekdays. Siapa yang sempat-sempatnya ke Singapura ketika hari kerja? Tanpa mandi, saya langsung tertidur.

Pukul lima alarm saya berbunyi, bangun kemudian mandi. Sempat bertegur sapa dengan orang Taiwan di kamar mandi, dia bersama empat temannya akan pergi ke Marina dan saya ditawari untuk bergabung, saya menolak karena harus menonton Before Midnight dan dia tertawa karena bulan lalu dia sudah menontonnya.

Satu jam berikutnya saya sudah berada di MRT menuju bioskop di daerah Orchard Road. Sempat makan di Burger King sebelum menonton karena saat itu saya baru ingat kalau seharian belum makan. Tepat pukul tujuh saya berada di dalam studio yang kapasitasnya tidak sampai lima puluh orang.

Saya tidak akan menceritakan bagaimana cerita Before Midnight karena ini bukan resensi film. Saya akan menceritakan kisah sebelum tengah malam di Singapura yang saya dapatkan.

Sekitar pukul sepuluh malam saya beranjak pulang menuju hostel menggunakan MRT. Tujuan saya ke Singapura sudah terlaksana, menonton Before Midnight. Saya tidak menduga bila gerbong MRT yang saya pilih akan membuat saya tersenyum sepanjang sisa hari hingga esoknya.

Saya, yang ikut-ikutan warga Singapura (menggunakan earphone dan melihat layar telepon genggam), duduk tenang menuju stasiun Bugis. Karena saya tidak hapal benar rute MRT, sesekali saya menoleh ke atas dan ke samping untuk melihat sudah sampai mana MRT membawa saya. Tiba-tiba padangan saya teralihkan oleh sepasang kakek-nenek beretnis Cina yang duduk tepat di hadapan saya. Mereka terlihat beragumen, saya tertarik, maka saya melepas earphone dan mencoba mendengar apa yang mereka ributkan.

Berhubung mereka menggunakan bahasa yang tidak saya mengerti, saya memperhatikan tingkah mereka, menerka bahasa tubuh. Si nenek terlihat tidak suka wajahnya, sedangkan si kakek matanya begitu teduh, menjelaskan sesuatu dengan sabar. Suara mereka tidak begitu keras, malah terdengar berbisik. Saya tertawa karena betapa bodohnya saya yang mencoba mendengar kata-kata mereka, padahal saya tidak mengerti sama sekali. Mereka sempat melemparkan pandangannya kepada saya karena mungkin tawa saya terlalu keras. Dengan cepat saya membuang pandangan saya ke telepon genggam, mereka pun kembali berdebat. Saya mulai hati-hati untuk melihat apa yang ada di hadapan saya.

Tiba-tiba sepasang kakek-nenek yang saya taksir berumur tujuhpuluhan itu saling membuang muka. Entah mengapa saya panik. Kenapa mereka berkelahi? Apa yang salah?

Beberapa detik kemudian terjawab apa yang diperdebatkan kakek dan nenek. Kakek sepertinya mengalah, dia menoleh ke arah istrinya dan berbicara. Istrinya tersenyum. Sang suami kemudian duduk bersandar dan … istrinya membenarkan kancing kemeja suaminya. Ya, sejak tadi mereka meributkan kancing kemeja. Suami salah memasukan kancing nomor tiga ke lubang nomor dua. Istrinya tidak suka, dan suami mungkin berpikir nanti saja dibenarkannya. Tapi akhirnya suami mengalah, membiarkan istrinya menjadi istri. Setelah kancing kemeja suami rapi tanpa salah masuk, mereka saling berpegangan tangan. Sang istri meletakan kepala di pundak suaminya. Mereka bahagia.

Maka sejak malam itu saya merevisi pemikiran saya, cinta juga lewat Singapura.

Saya sampai di hostel sekitar pukul sebelas malam, menemukan dua buah tempat tidur terisi di kamar tipe dorm saya. Saya mandi kemudian tidur. Esoknya pada pukul sebelas saya check-out dan langsung menuju Changi International Airport untuk melanjutkan tidur. Pukul delapan malam, saya sudah kembali berada di Jakarta.

Before Midnight(s) ticket

Before Midnight(s) ticket

PS: Sepertinya Before Mignight tidak akan ditayangkan di Indonesia karena adegan topless Julie Delpy, apalagi ‘Before Midnight’ yang saya temukan di MRT. 🙂

Kebetulan Ubud

Saya pernah dikeroyok kebetulan yang menyenangkan. Kebetulan datang bertubi-tubi sampai saya lelah sendiri diserang bahagia. Saya sampai takut, jangan-jangan jatah bahagia saya sudah banyak terpakai.

Sebelum saya menceritakan kebetulan-kebetulan, saya akan merunut kejadian pembukanya seperti ini; Mark Zuckerberg menciptakan Facebook pada tahun 2006 di Inggris. Dua tahun kemudian di sebuah kedai kopi yang jauhnya ribuan kilometer dari tempat Mark Zuckerberg menciptakan Facebook, saya mendaftarkan diri sebagai salah satu anggotanya atas bantuan teman saya bernama Randita. Satu tahun kemudian, saya yang sedang bosan mencari sebuah bacaan di dunia maya yang akhirnya membuat saya mendarat di notes milik Fajar Nugros yang sedang membuat cerita bersambung berjudul Adriana. Setiap hari saya menunggui cerita sambungan Adriana, saling bertukar komentar dengan orang-orang yang juga membaca notes tersebut yang akhirnya membuat kami semua secara tidak sengaja memproklamirkan diri sebagai The Hermes (karena dalam cerita Adriana, tokoh utama memberikan sebuah kode yang berujung pertemuan di bawah kaki Dewa Hermes, Museum Fatahillah, Jakarta), semacam kelompok pembaca dan pada akhirnya penulis. Yang tadinya hanya berteman maya, sampai akhirnya saling mengenal wujud satu sama lain. The Hermes menjadi suatu kelompok yang menyenangkan, dari mulai menulis untuk disumbangkan berbagai bencana alam yang menimpa Indonesia sampai mengisi berbagai acara yang berhubungan dengan sastra. Dua tahun setelah The Hermes lahir, tiba-tiba kelompok ini ditawari untuk membuat buku, siapapun yang memiliki naskah, boleh coba dikirim ke penerbit baru, PlotPoint, penerbit yang digagas oleh Salman Aristo dan istrinya, Gina S. Noer.

Dan rentetan kebetulan yang saya bicarakan di awal, dimulai.

Beberapa bulan kemudian saya memberanikan diri untuk mengirimkan naskah novel saya ke PlotPoint. Gina S. Noer berkata, “Maunya jadi novel populer atau novel sastra? Mau dibaca satu tahun, atau bertahun-tahun kemudian?”

Jelas saya mau yang kedua. Gina menjelaskan kalau naskah novel saya setengah-setengah, belum ketahuan akan jadi apa. Maka saya diminta membaca Tetralogi Buru Pramoedya Ananta Toer karena saya memilih yang kedua atas pertanyaannya. Sepulang dari kantor PlotPoint, saya menyempatkan diri ke Gramedia dan membeli Bumi Manusia, buku pertama dari Tetralogi Buru.

Semalaman di rumah saya membaca, sesekali mengeluarkan komentar di jejaring sosial, Twitter. Dan entah bagaimana caranya, tiba-tiba tiga teman saya, Jia, Om Em, dan Emmy tertarik untuk membahas bersama buku Bumi Manusia, sebagian mereka sudah pernah membacanya dan ingin bertukar pikiran tentang karya Pramoedya Ananta Toer yang paling tersohor itu. Maka sebuah klub buku dibentuk, bulan berikutnya kami bertemu dan membahas kejadian-kejadian serta tokoh-tokoh dalam Bumi Manusia. Menyenangkan, ini baru pertama kalinya saya membicarakan buku sedalam-dalamnya.

Tanpa diduga Ubud Writers & Readers Festival 2012 mengusung tema Bumi Manusia, hanya berjarak kurang dari tiga bulan sejak saya membahasnya dengan ketiga teman saya. Tanpa pikir panjang, saya langsung mencari-cari tiket ke Bali, menghitung-hitung biaya pulang pergi dan biaya hidup saya selama di sana. Saya mengabari ketiga teman saya untuk ikut serta, sayang Jia dan Om Em memiliki kesibukan, sedangkan Emmy masih belum tahu apakah mendapatkan jatah cuti atau tidak. Pada akhirnya Emmy mengabari bahwa dia tidak dapat ikut, dan memberikan kejutan bahwa dia memiliki voucher yang bisa saya pakai untuk terbang ke Bali. Emmy bahkan meminjamkan kartu kreditnya untuk membeli tiket kepulangan saya. (God bless you, Mmy!)

3 Oktober 2012 sekitar pukul dua siang saya sampai di Bali. Dengan bekal pengalaman-pengalaman sebelumnya di Pulau Dewata, saya santai saja berjalan kaki menuju travel Xtrans yang tidak jauh dari bandara Ngurah Rai, sekitar 10 menit. Ada yang berbeda dari perjalanan saya ke Bali kali ini, karena saya akan menuju Ubud. Tempat yang belum pernah saya kunjungi karena selalu kalah suara saat berlibur bersama teman-teman. Ubud (yang katanya) terlalu tenang memang bukan tempat yang dicari teman-teman saya bila kami berlibur ke Bali. Ini pertama kalinya saya seorang diri pergi ke Bali, saya bebas ke mana saja, termasuk ke Ubud.

Saya berdebar bukan main saat menunggu mobil elf yang akan mengantarkan saya ke Ubud. Hampir satu jam saya menunggu. Dan betapa terkejutnya saya, saya adalah satu-satunya pelanggan yang akan pergi menuju Ubud di mobil travel yang muat untuk sepuluh orang. Dengan membayar 40 ribu rupiah, saya seakan menyewa mobil beserta sopirnya!

Saya tertidur sepanjang perjalanan menuju Ubud. Saya kira perjalanan dari Kuta-Ubud memakan waktu lama, yaa, sekitar jarak Jakarta-Bandung, tapi ternyata saya salah. Kuta-Ubud hanya memakan waktu satu jam, saya dibangunkan oleh sopir ketika memasuki daerah Monkey Forest, dan dia bertanya saya mau diturunkan di mana. Berhubung saya buta akan Ubud saya hanya mengatakan yang banyak penginapannya, maka sopir travel akhirnya memutuskan untuk menurunkan saya di lapanganan terbuka, lapangan yang segala penjuru arahnya adalah penginapan. Saya turun, bingung sekaligus semangat. Saya sampai di Ubud!

Setengah Jalan

Saya adalah salah satu orang yang kesal bukan main jika ada sekelompok orang yang memblokade jalan demi kepentingan kelompok atau pribadinya. Membuat orang lain kesusahan tentu bukan perilaku yang baik. Namun, bagaimana jika mungkin itu cara mereka untuk membuat kita lebih baik? Sebuah pengalaman membuat cara pandang saya menjadi berbeda.

Saya meninggalkan stasiun Hua Lamphong dengan kenangan baik dan buruk, bertemu dengan (mungkin bisa dibilang) scam dan bertemu orang yang membantu saya. Seimbang. Sekarang saya dengan tenang duduk di bus nomor satu menuju Khao San Road sambil sesekali tertawa melihat tuk-tuk atau bus yang disiram oleh warga yang sudah menyiapkan bergentong-gentong air di depan toko atau rumah mereka.

Meskipun sudah menunjukan tulisan Pak Zaki kepada supir bus (kondekturnya tidak ada) yang dijawab anggukan meyakinkan dari sang supir, saya tetap waspada dengan membuka google maps melalui telepon genggam. Selain memperhatikan layar, saya juga memperhatikan orang-orang yang naik-turun bus.

Ada yang janggal.

Semua orang yang naik tidak membayar kepada supir. Saya pun ketika naik tidak membayar, saya pikir nanti ketika turun saya akan menghampiri supir dan memberikannya sejumlah uang, seperti naik angkot di Indonesia. Tapi penumpang yang saya lihat seenaknya saja menekan bel di samping pintu bus menandakan mereka akan turun di halte berikutnya. Dan mereka turun begitu saja tanpa membayar ketika bus berhenti di sebuah halte. Apa naik bus di Thailand itu tidak perlu membayar? Begitu pikir saya. Tapi kenapa Pak Zaki meminta saya menunjukan uang 20 Baht untuk membayar? Pikir saya selanjutnya. Aneh.

Tiba-tiba saya menemukan kejanggalan lain. Bus yang saya tumpangi menjauhi Khao San Road saat saya melihatnya di google maps. Gawat! Akhirnya saya cepat-cepat menekan tombol di samping pintu bus, dan di halte berikutnya saya turun tanpa membayar (untung tidak diteriaki, mungkin memang gratis).

Jarak ke Khao San Road tidak begitu jauh dari tempat saya turun, sekitar dua kilometer. Tapi ya, lumayan juga, apalagi backpack masih tergantung di bahu. Dengan percaya diri saya berjalan menuju pusat keramaian tak jauh dari halte tempat saya turun. Di sana ternyata ada sebuah mall yang sepertinya setengah tutup, mungkin karena sedang ada perayaan Songkran, sehingga mall setengah tutup. Maksud saya setengah tutup adalah pintu utama mall tidak dibuka, gerai-gerai yang buka hanya gerai yang memiliki akses pintu dari luar mall, seperti McDonald’s.

Dan saya menemukan sesuatu yang menarik, di depan McDonald ada patung Ronald McDonald yang sedang memberikan salam ala Thailand. Seakan mengucapkan Sawasdee krub/ka kepada pengunjung yang datang. Saya tersenyum melihatnya. Ronald McDonald di Thailand memang tidak bisa diduduki, seperti Ronald McDonald di Indonesia karena dia memang dalam posisi asyik duduk dan seakan merangkul kita bila kita duduk disebelahnya karena tangannya yang memanjang di atas bangku, tapi Ronald McDonald di Thailand terkesan sangat ramah dengan kepalanya yang sedikit ditundukan.

Di depan mall setengah tutup itu terdapat halte yang (sepertinya) mengarah ke Khao San Road. Saya yang sebenarnya kelelahan karena kurang tidur ingin sekali duduk di kursi yang ada di halte, namun semua kursi tunggu penuh terisi. Tiba-tiba ada seorang Biksu yang saya taksir berumur sama dengan saya, sekitar pertengahan dua puluh, berjalan ke arah halte. Salah satu wanita yang duduk di kursi tunggu berdiri, kemudian dua wanita disebelah kanan kirinya pun ikut berdiri, memberikan tempat kepada Biksu muda untuk duduk. Kursi yang mampu menampung sekitar sepuluh orang kini hanya berisi delapan pria termasuk Biksu yang baru saja duduk. Saya heran, umur para wanita yang berdiri itu terlihat tidak lebih muda dari umur sang Biksu muda, malah satu orang wanita bisa dikatakan tua, kenapa pula mereka berdiri? Lagipula bukan kah Biksu muda itu hanya membutuhkan satu tempat? Lalu kenapa tidak ada pria yang berdiri? Saya melihat ada anak yang lebih muda (mungkin SMP) yang anteng saja melihat kejadian itu. Pertanyaan memenuhi otak saya.

Beberapa menit melihat kursi di sebalah kanan dan kiri Biksu muda tersebut kosong, membuat saya tidak tahan untuk mengisinya. Saya pun duduk di sana. Ketika mata saya dan matanya bertemu, saya mencoba tersenyum. Biksu muda tersebut membalasnya. Kemudian mata sang Biksu muda mengarah kepada bus yang datang, dia berdiri. Dan sebuah pemandangan yang awam untuk saya kembali terjadi. Para pria ikut berdiri kemudian melakukan semacam blokade kepada Biksu muda untuk jalan memasuki pintu bus, para wanita sabar menunggu Biksu muda untuk masuk. Setelah Biksu muda masuk, beberapa pria yang tadi ikut memblokade, naik ke dalam bus, disusul oleh para wanita. sisa pria yang lain duduk kembali. Sebelum bus berangkat, saya sempat melihat Biksu muda seakan dilapisi jaraknya oleh para pria dari wanita. Dan saat itulah saya tersadar, Biksu tidak boleh bersentuhan dengan lawan jenis!

Saya tertawa dengan pemikiran saya sebelumnya tentang para pria yang duduk di halte ini, mereka bukan tidak peduli, sebaliknya, mereka sangat peduli kepada para Biksu. Begitu juga dengan para wanitanya. Hebat! Saya kagum dengan cara warga Thailand memperlakukan Biksu muda, lain ceritanya bila Biksu yang tadi berumur lebih dari lima puluh tahun, mungkin saya akan merasa biasa saja dengan perlakuan mereka.

Entah mengapa setelah melihat kejadian Biksu tersebut membuat saya berpikir ulang tentang beberapa kelompok keagamaan yang menggelar acara di ruang publik. Mungkin memang mengganggu, tapi saya rasa tidak pantas melarang atau marah kepada mereka untuk mendapatkan satu jatah tempat di surga menurut agama mereka. Saya memang bukan orang yang taat beragama, dan mungkin itu cara mereka mengajak saya untuk lebih taat karena cara lain yang lebih ramah tidak lagi mampu membuat saya tergerak. Mungkin.

Dan Khao San Road masih setengah jalan.

Ronald McDonald - Thailand

Ronald McDonald – Bangkok, Thailand

Ada Melayu di Bangkok

Entah sejak kapan saya memiliki janji pribadi untuk tidak pernah menginjakan kaki di Malaysia. Berkali-kali tawaran teman yang mengajak berlibur ke Kuala Lumpur, Malaka, atau Penang saya tolak karena janji tanpa alasan tersebut. Sampai detik ini pun bila saya mencari tiket, saya menghindari penerbangan yang menyinggahkan penumpangnya di tanah Malaysia. Mungkin orang-orang bisa dengan mudah menyimpulkan janji saya itu didasari akan perang dingin antara Malaysia-Indonesia, saya tidak bisa mengamini pendapat itu karena saya sungguh tidak peduli dengan ‘perkelahian’ tersebut. Saya hanya tidak mau, dan sepertinya tidak perlu alasan untuk tidak mau.

Tapi mungkin janji saya nantinya bisa terpatahkan karena menemukan pengalaman bertemu ‘Malaysia’ di Kota Bangkok.

Semua teman saya yang sudah pernah ke Bangkok menyarankan untuk menaiki Airport Rail Link dari Suvarnabhumi menuju Phaya Thai dan melanjutkan perjalanan menggunakan taksi untuk sampai di daerah Songkran paling ramai, Khao San Road. Saya keras kepala. Saya memilih untuk menaiki Airport Rail Link dan turun di Hua Lamphong. Sungguh, di tiga peta Kota Bangkok yang saya dapatkan di bandara, Hua Lamphong lebih dekat daripada Phaya Thai. Masalah pun akhirnya datang. Hua Lamphong ternyata sebuah stasiun (sekaligus terminal?) besar yang menghubungkan hampir semua penjuru Thailand. Saya kebingungan mencari taksi dan tuk-tuk yang jarang sekali ditemui, kalau pun ada, terisi. Kalau pun kosong, mereka menolak mengantarkan ke daerah Khao San Road yang terlalu dekat dan macet. Hingga akhirnya dengan sok tahu saya berjalan sekitar Stasiun Hua Lamphong. Melihat-lihat sambil terus mencari kendaraan menuju Khao San Road.

Saat sedang berjalan (sok) percaya diri (padahal sudah panik), saya dicegat oleh seorang pria yang usianya sekitar akhir tiga puluh. Dia berbicara menggunakan bahasa Thailand, dan saya berkata, “Sorry, I’m not local.” Percayalah, saya melihat mata pria tersebut membesar dan senyumnya langsung mengembang. Kemudian dia bertanya apakah saya berasal dari Filipina, dan saya melongo. Saya pikir setelah dia mengira saya orang Thailand (karena dia mengajak saya berbicara dengan bahasanya), dia akan menganggap saya sebagai orang Malaysia. Saya menggeleng dan menjelaskan kalau saya berasal dari Indonesia. Percayalah, matanya kembali membesar. Dan semakin membesar lagi ketika tahu saya berasal dari Jakarta. Setelah bertanya apakah saya dalam rangka liburan dan saya mengangguk, dia segera memberikan sebuah peta Bangkok dan dengan cepat menjelaskan rute terbaik menuju Khao San Road. Di mulai dengan menggunakan tuk-tuk ke daerah A, kemudian menggunakan perahu (iya, melalui sungai!) ke daerah B, lalu menonton pertunjukan C sebelum melanjutkan perjalanan menggunakan taksi ke daerah D, kemudian E, lalu F, dan G, akhirnya sampai lah di Khao San Road.

“HAH?” Saya refleks berteriak ketika dia menyebutkan berapa harga Hua Lamphong-Khao San Road dengan rutenya tersebut … 3500 Baht! Lebih dari satu juta rupiah dan saya bahkan belum menemukan penginapan! Saya segera pamit saat itu juga, mencoba sopan dengan berkata bahwa saya masih ingin mengelilingi Hua Lamphong. Pria tersebut memaksa, “You can’t find anything here.” Dan saya berjalan tanpa arah, yang penting menghidar dari pria tersebut.

Jalan yang saya pilih membuat saya ketakutan sebenarnya, padahal saat itu masih pukul dua siang. Tapi suasananya sangat mencekam, bayangkan daerah Glodok yang penuh dengan pertokoan dalam keadaan tutup dan jalan Gajah Mada-Hayam Wuruk tidak dilalui satu mobil pun. Semua warga Thailand sedang merayakan Songkran, sedangkan otak saya lebih memilih membayangkan peristiwa Mei 1998.

Saya memutar jalan untuk kembali ke Stasiun Hua Lamphong, menghindari pria yang menawarkan perjalanan satu juta rupiah ke Khao San Road. Sepanjang jalan, bila ada mobil pick-up yang lewat saya ‘ditembak’ oleh orang-orang yang berada di atasnya menggunakan pistol air mainan. Saya yang masih memanggul backpack, berjalan tanpa tujuan, masih mengenakan pakaian rapi karena baru sampai, menggunakan sepatu, dan akhirnya basah kena semprotan. Hebat! Saya bahkan belum enam jam di Thailand.

Saya akhirnya masuk ke Stasiun Hua Lamphong, mungkin Khao San Road bisa menunggu. Saya berpikir untuk langsung saja membeli tiket ke Ayutthaya, mumpung sudah berada di stasiun. Tapi saya memikirkan ulang keinginan tersebut. Jelas tujuan saya ke Bangkok adalah menghadiri Songkran, walaupun nantinya di Ayutthaya juga ‘main siram-siraman’, tentu Khao San Road lebih menarik. Maka akhirnya saya keluar dari Stasiun Hua Lamphong, berjalan sedikit ke arah sungai yang memiliki kursi-kursi di pinggirnya.

Saya duduk di sana, saya biarkan tubuh saya diterpa sinar matahari agar bagian-bagian yang basah dari pakaian mengering. Sambil merokok dan memikirkan langkah selanjutnya, saya menertawakan diri sendiri yang sok tahu menjelajahi Bangkok seorang diri. Tapi dengan cepat otak saya menimpali, “Loe bukan orang pertama yang pergi sendirian ke Bangkok untuk pertama kalinya. Nggak usah drama!”

Saat sedang melihat bus-bus yang singgah di Stasiun Hua Lamphong, seorang pria berumur sekitar lima puluhan duduk di samping saya. Sebenarnya saya agak terganggu, karena melihat masih banyak kursi yang kosong, saya tidak keberatan bila semua kursi sudah terisi.

Dia mengajak saya berbicara menggunakan bahasa Thailand, lagi-lagi saya harus menjelaskan bahwa saya bukan orang Thailand. Dan sungguh aneh saat pria itu bertanya, “Are you Pinoy?” Dua kali dalam sehari dianggap orang Filipina jelas bukan kebetulan, sepertinya saya memang mirip dengan warga negara yang ibukotanya Manila itu. Saya memilih tertawa, berkata bahwa saya berasal dari Indonesia. Dan keajaiban pertama saya di Thailand dimulai.

“Indonesia? So, you bisa bahasa Melayu?”

“Bahasa Indonesia? Bisa.”

Saya keheranan saat pria sekitar lima puluhan ini berbicara menggunakan bahasa yang sangat saya mengerti.

“… Liburan di Bangkok? Naik ape?”

“Iya, tadi naik pesawat.”

“… Turun di mane? Don Mueang?”

“Bukan, Suvarnabhumi.”

“Sorry?”

“Suvarnabhumi.”

“Ah, Suvarnabhum.”

“Iya, Suvarnabhum. Baru saja sampai tadi jam sebelas.”

“Muslim?”

” … Iya, Muslim.”

“Saye Zaki.” Pria itu menawarakan berjabat tangan.

“Alvin.” Saya menyambutnya.

“Arifin?”

“Alvin.”

“Ya, Arifin. You nak ke mane … sekarang?”

“… Khao San Road.”

“Tahu … take with you untuk ke sana?”

“… I’m looking for cab or tuk-tuk, actually.”

“Sorry?”

“Taksi atau tuk-tuk.”

“Oh ya ya. Mahu saye tanya bus passing Khao San Road?”

“Sure! Thank you.”

Dan akhirnya pria yang bernama Zaki itu menanyakan bus nomor berapa yang bisa membawa saya ke Khao San Road kepada sopir bus yang sedang memarkirkan busnya tidak jauh dari tempat kami duduk.

“You … take bus number one. Do you … have any … paper and pen?”

“Wait.”

Setelah saya memberikan kertas dan pulpen kepada pria tersebut, dia menuliskan huruf Thailand yang sampai detik ini tidak saya pahami dan kertasnya masih tersimpan rapi di kamar saya. Saya sok tahu dengan mengartikan, “Anak ini mau ke Khao San Road, turunkan dia di sana.”

Dia memberikan kertas itu kepada saya dan berkata bahwa saya harus menunjukan kertas itu kepada sopir atau kondektur bus. Kami berdua akhirnya berjalan menuju tempat pemberhentian bus di Stasiun Hua Lamphong. Saat berjalan, Zaki meminta saya menunjukan isi dompet saya. Sungguh, saya kembali panik saat itu juga. Sepertinya Zaki tahu bila saya tidak suka dengan permintaannya, tapi akhirnya saya mengeluarkan dompet saya juga.

“Yang itu cukup untuk membayar.” Zaki menunjuk uang pecahan 20 Baht. Dia bahkan tidak menyentuhnya. Saya jadi menyesal sempat panik dan berpikiran yang tidak-tidak.

“Paper and pen?” Lanjut Zaki ketika kami sudah sama-sama di ruang tunggu tempat pemberhentian bus.

“You someday … harus ke tempat saye. Banyak Muslim.” Kata Zaki sambil terus menulis. Saya mempehatikan dia menulis, berkali-kali dia terlihat kesulitan menuliskan sesuatu dalam huruf latin. Tapi akhirnya sebuah alamat, lengkap dengan kode posnya, bahkan nomor telepon genggam berhasil Zaki tulis menggunakan huruf latin. “Yala, rumah saye … tak jauh dari Masjid Besar Yala. Tanya saja.”

“I took train … jam empat nanti.” Kata Zaki akhirnya sambil menyerahkan kertas berisi alamatnya kepada saya. “Oh, see … bus number one! Don’t forget … to show the paper!”

“Yes, Sir. Thank you for your kindness.”

“Sorry?”

“Thank you!”

“Sama-sama. As-salamu alayikum, Arifin.”

“Wa alaykumu s-salam, Pak Zaki.”

Sepanjang perjalanan di bus nomor satu, saya tidak henti-hentinya tersenyum.

Bukan kebetulan Pak Zaki memilih untuk duduk di samping saya padahal masih ada kursi-kursi kosong yang tersedia di pinggir sungai di dekat Stasiun Hua Lamphong. Bukan kebetulan Pak Zaki berinisiatif untuk mengajak saya berbicara. Bukan kebetulan ternyata Yala adalah provinsi di Thailand yang paling selatan sehingga berbatasan dengan Malaysia yang membuat Pak Zaki bisa sedikit berbahasa Inggris dan Melayu serta menulis huruf latin. Bukan kebetulan kami mengimani Tuhan yang sama padahal Muslim di Thailand hanya 4,6% dari jumlah penduduknya.

Yang saya yakini sekarang sejak pertemuan itu, nama Islam saya adalah Arifin.

Hua Lamphong-Khao San Road

Hua Lamphong-Khao San Road